Wajah Hitam sang Pengrajin Arang Kayu asal Pemalang

 

Pemalang – Jawa Tengah,- Kebutuhan akan Arang dari kayu di Jaman Sekarang masih tetap dibutuhkan, walaupun sudah  tidak lagi orang menggunakan Arang kayu, untuk menyetrika baju, akan tetapi arang kayu, masih tetap dicari orang, bahkan sekarang kebutuhan akan Pembakaran Kayu ( Arang ) semakin bertambah.

Hal ini disebabkan semakin bertambahnya Pedagang makanan, yang memasaknya dengan cara dibakar, Sate bakar adalah kuliner dari jaman dulu yang membutuhkan Arang buat mematangkan tusukan dari daging kambing tersebut, di samping juga ada sate ayam bakar.

Ada masalah yang dibakar selain sate, seperti Jagung bakar,Sosis, dan Ayam bakar, semaunya menggunakan Arang dari Pembakaran kayu, sebagai pematang kuliner bakar tersebut.

Tasripin atau biasa di panggil Mang Ipin, lelaki tua berusia 60 tahun, warga Kampung Mengoneng, kelurahan Bojongbata, Pemalang Kota, sudah lama menggeluti usaha Membuat Arang kayu, walaupun tidak berskala besar, akan tetapi dari ketelatenan kecil – kecilan membuat usaha Pembuatan Arang, dirinya bisa menghidupi kebutuhanya.

Lelaki yang dikenal dikampungnya sebagai orang yang tidak bisa diam ini, karena pekerjaan nya serabutan di samping sebagai Pembuat arang.sebagai mata pencaharian yang utama.

Bapak dengan 6 orang anak ini sudah lama menggeluti Pembuat arang, bahan kayu yang digunakan antara lain, dari kayu pohon mangga, jambu, Nangka, dan pohon pete, kayu mangga adalah bahan yang sering digunakan, untuk pembuatan arang.

Menurut mang ipin ketika ditemui di tempat pembakaran Arang belakang rumahnya, jum,at ({ 29/7 ), menuturkan untuk sekali Pembakaran kayu mangga, bisa menghasilkan 2 sampai 3 kuintal arang, dengan waktu Pembakaran 2 hari 2 malam, untuk per 50 kilogram arang dia jual 100 ribu rupiah.

Andre penjual Ayam bakar langganan Arang kayu buatan mang ipin, mengatakan untuk pembelian Arang bakar buat Ayam bakar nya dia memesan 3 sampai 4 hari sekali dari mang ipin, “arang kayu nya bagus, tidak cepat habis alias awet bara apinya, sehingga bagus untuk bakaran ayam” katanya.

 

 

 

 

 

Di tempat pembakaran arang, mang ipin mengatakan bahwasanya membuat arang , disamping buat sedikit Penghasilan, untuk mengusir kejenuhan juga, karena dirinya sudah lama di tinggal mati istrinya. ” dari pada melamun mas lumayan ” katanya.

Dari wajah mang ipin terlihat gambaran kelelahan, berapa panjang cerita dan perjalanan hidup nya , wajahnya terus menghitam karena setiap hari di terpa asap bakaran arang kayu.

Hitamnya arang yang dibakar seorang mang ipin yang gigih melewati hidup, semoga tidak sehitam kesulitan hidupnya.

 

Ragil 74.

Comments
Loading...