Dirawat tiga bulan di RS Beijing, Sunenti TKW asal Indramayu ini tak dapat perhatian dari KBRI dan KJRI

Indramayu, jurnalpelita.com- KBRI dan KJRI merupakan perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri, yang secara resmi mewakili dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia secara keseluruhan di Negara Penerima atau pada Organisasi Internasional, salah satunya adalah di Beijing.

Namun hal itu dianggap sebagai teori dan tidak ada guna buat pahlawan Devisa Indonesia asal Indramayu yang bekerja di Beijing, hal itu diungkapkan oleh Sunenti buruh migran asal Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, ia mengatakan bahwa dirinya kerja di Beijing selama satu tahun sebagai PRT (pembantu rumah tangga) dan ia bekerja secara legal.

Namun selama tiga bulan ia dirawat di salah satu rumah sakit di Beijing tidak ada perhatian dari perwakilan negara Indonesia KJRI dan KBRI yang ada Beijing.

“Padahal saya sudah menghubungi pihak perwakilan Indonesia, tidak ada respon dari pihak perwakilan pemerintah Indonesia seperti KJRI dan KBRI di Beijing tersebut, jadi percuma punya perwakilan Indonesia yang ada di Beijing tersebut,” Keluhnya saat ditemui dikediamannya. Selasa 08/06/2021.

Ia berharap agar KBRI dan KJRI perwakilan Indonesia yang ada di Beijing bisa memperhatikan nasib para buruh migran di negara tersebut.

“Demi pembiayaan saya selama dirawat di rumah sakit Beijing selama 3 bulan, saya jual harta benda saya di kampung, orang tua saya menghabiskan 140 juta untuk perawatan selama saya di rumah sakit di Negara Beijing,” Tambahnya.

Berdasarkan keterangan dari Sunenti, ia divonis sakit jantung dan paru paru basah oleh dokter setempat, namun kata dia majikan tempat ia bekerja tidak mengurusi dirinya selama di rumah sakit, menurutnya pihak perwakilan Indonesia semuanya tutup mata dengan penderitaan yang ia alami, Sunenti menyayangkan dengan sikap KBRI dan KJRI Indonesia yang ada di Beijing tidak mempedulikan kondisinya.

“Saya mohon pemerintah pusat dan daerah Indramayu khususnya Dinas ketenaga kerjaan Indramayu agar memperhatikan dan berperan aktif ketika warganya dalam masalah apapun, karena kejadian ini sudah terjadi pada diri saya sendiri, Dan saya sampai bisa pulang ke Indonesia atas dasar bantuan dari SBMI (serikat buruh migran Indonesia) melalui Juarih sebagai jembatan mediasi antara pemerintah Baijing untuk kepulangan saya,” Terangnya.

Ia berharap, peristiwa ini menjadi perhatian buat pemerintah pusat dan daerah agar dalam perlindungan tenaga kerja khususnya PRT agar di perhatikan.

Pena : Kajen

Comments
Loading...